Dahlan Iskan


Dahlan Iskan
Manufacturing Hope 96
Sashimi Prinus setelah Lama Mampus

INILAH mayat hidup berikutnya di BUMN: PT
Perikanan Nusantara (Prinus). Perusahaan ini
sebenarnya praktis sudah mati. Tidak ada aktivitas
berarti di dalamnya. Karyawannya pun sudah tiga
tahun tidak bergaji.
Ini sangat ironis. Di negara yang luas lautnya 2/3 dan
daratnya hanya 1/3, perusahaan negara yang
bergerak di bidang kelautan malah tidak bisa
berkembang. Membuatnya hidup kembali juga tidak
mudah. Kepercayaan dari stakeholder sudah hilang.
Bahkan, kepercayaan kepada diri sendiri pun sudah
lenyap. Utangnya menumpuk. Sampai lebih Rp 50
miliar. Termasuk utang pajak Rp 12 miliar.
Ibarat orang mau merangkak, dia harus bisa keluar
dulu dari lubang yang dalam.
Tidak masuk akal perusahaan perikanan mati di
kolam ikan. "Tidak ada modal." Begitu selalu kilah
yang terucapkan. "Minta PMN." Itu ujung-ujungnya.
Minta penambahan modal negara.
Saya tidak mau dua-duanya. Modal hanya bisa
diberikan kepada yang biasa kerja, kerja, kerja.
Modal tidak boleh diberikan kepada yang tidak mau
bekerja. Yang biasanya juga tidak mau berpikir. Yang
biasanya juga mudah mengeluh. Yang biasanya juga
mudah menyerah. Yang biasanya juga mudah
menyalahkan orang lain.
Karena itu, saya tidak mau menjanjikan modal. Saya
minta mereka bekerja dulu. Kerja. Kerja. Kerja. Apa
yang bisa dikerjakan" "Apa saja," jawab saya. Maka
dicarilah apa yang bisa dikerjakan.
Muncullah gagasan ini. Datangnya dari Direktur
Keuangan (waktu itu) Abdussalam Konstituanto. Cari
upah dari memperbaiki kapal orang lain. Menjual
jasa. Tanpa modal. Kecuali tenaga.
Toh, PT Prinus punya galangan kapal. Bahkan di lima
lokasi: Pekalongan, Surabaya, Bitung, Ambon, dan
Sorong. Kelimanya berada di pusat-pusat kekayaan
perikanan Indonesia.
Dulunya, zaman dulu, galangan kapal itu
dimaksudkan untuk dipakai sendiri. Ketika PT Prinus
masih jaya. Masih memiliki banyak kapal. Kalau ada
kapal yang rusak, tinggal diperbaiki di galangan
sendiri.
Belakangan lima perusahaan perikanan di lima kota
itu bermasalah. Semuanya. Mismanagement. Secara
berjamaah. Sakit. Sempoyongan. Semaput. Sekarat.
Tahun 2004 muncul ide menyehatkannya: digabung
menjadi satu perusahaan dengan nama PT Perikanan
Nusantara (Persero). Menyatukan lima perusahaan
sekarat ternyata ibarat orang lumpuh menggendong
orang pingsan. Tidak jalan.
Sampai tiga tahun kemudian tidak bergerak.
Penyatuan itu ibarat hanya mengumpulkan lima
orang sekarat dalam satu kamar pengap. Tidak ada
obat dan tidak ada dokter.
Baru pada 2007 statusnya diperjelas: diberi direksi
dan diberi injeksi. Bayangkan apa yang bisa
diperbuat gabungan lima perusahaan lumpuh itu.
Lima perusahaan yang secara spiritual sudah rusak
bertahun-tahun.
Tentu, saat diangkat sebagai menteri, saya tidak bisa
membiarkannya. Mayat itu harus diurus. Dikubur.
Atau dihidupkan. Saya mencoba memilih yang kedua.
Rasanya tidak akan sesulit pabrik kertas Leces.
Dunia kian tidak memerlukan kertas. Dunia kian
memerlukan ikan.
Untuk langkah pertama, saya minta utang-utang PT
Prinus diselesaikan. Beres. Lalu muncul ide dari
Abdussalam untuk mendayagunakan galangan kapal
itu. Kerjakan. Kerja. Jalan. Bernapas.
Tahun berikutnya Abdussalam saya naikkan jadi
direktur utama. Berkibar. Lima galangan kapal di
lima kota itu kian sibuk. Uang mengalir masuk. Tidak
ada lagi yang bocor. Dulu galangannya sibuk, tapi
uangnya entah ke mana.
Jumat lalu saya ke Ambon. Meninjau PT Prinus
Cabang Ambon. Tanda-tanda kehidupan tampak
dengan nyata di situ. Galangan kapalnya sibuk.
"Sampai Desember nanti sudah penuh. Kami sudah
menolak-nolak order," ujar Ferdinand Wenno, kepala
PT Prinus Cabang Ambon.
"Banyak sekali kapal ikan yang antre perbaikan,"
tambahnya. "Bahkan, kapal ikan Taiwan pun
diperbaiki di sini," ungkap dia. Terlihat ada
kebanggaan di sorot matanya.
Demikian juga di Surabaya, Bitung, dan Sorong.
Semua sibuk bekerja. Bangga.
Hope itu cepat menjalar. Merambat. Menular.
Mewabah. Setelah galangan kapalnya bergairah,
Abdussalam mengayunkan langkah baru.
Menghidupkan pabrik es di lima kota.
Kapal ikan perlu es. Dalam jumlah besar. Nelayan
mulai mendatangi PT Prinus. Untuk mendapatkan es.
Abdussalam pandai memanfaatkan hope dan
optimisme. Dia jadikan itu mesiu untuk melesatkan
cita-cita. Galangan dan pabrik es bukanlah cita-cita
yang sebenarnya. PT Prinus bukan perusahaan es.
Dia perusahaan perikanan. Galangan dan es
hanyalah sasaran antara. Jembatan.
Awal 2013 Abdussalam menyeberangi jembatan itu.
Masuk ke jantung perusahaan: membangun pusat
pengolahan ikan. Di lima kota.
Di Ambon saya kaget. Ada tiga orang Korea dan satu
orang Amerika. Pagi itu mereka lagi menyeleksi hasil
pengolahan ikan Prinus. Agar layak diekspor. Tidak
ditolak di negara tujuan. Tidak diklaim.
Itu langkah yang cerdas sekaligus prudent.
Perusahaan yang baru hidup seperti Prinus masih
menghadapi banyak kerawanan. Belum memiliki
keahlian. Kalau ekspor ikannya sampai ditolak,
Prinus akan kembali mampus.
Saya sungguh bangga dengan Prinus. Mayat itu kini
sudah hidup. Bahkan sudah mampu berjalan. Cukup
jauh. Hanya perlu waktu dua tahun. Tanpa suntikan
modal sama sekali.
Sorenya saya ke Sorong, Papua Barat. Di sini tanda-
tanda kehidupan itu lebih nyata. Galangannya, pabrik
esnya, dan pengolahan ikannya sangat istimewa.
Tentu semua itu baru awal kebangkitan. Abdussalam
masih menyimpan dendam yang sangat dalam:
menjadikan Prinus benar-benar perusahaan
perikanan kelas dunia.
Dia lahir di Bangkalan, Madura. Dia alumnus
Akuntansi Unair. Dia doktor ekonomi IPB. Dia
mencintai laut dan isinya.
Sore itu dia sudah menyiapkan sashimi fresh untuk
saya. Tapi, heli yang akan membawa saya ke Kais
tidak bisa menunggu. Di Kais, pedalaman Sorong
Selatan itu, Perum Perhutani sudah siap membangun
pabrik sagu pertama.
Saat menuju Kais, saya minta heli terbang rendah di
80 km selatan Kota Sorong. Di sinilah konsorsium PT
Pelindo akan membangun pelabuhan laut
internasional sebesar yang di Makassar.
Dua proyek itu lebih menggiurkan untuk dilihat. Saya
tinggalkan sashimi. Saya telan kembali liur yang
sudah telanjur mengucur. (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

sumber :  http://www.jpnn.com/

Blog Archive